BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mempengaruhi perilaku
adalah cara yang bisa membuat orang lain cenderung menyetujui dan menganggap
pendapat anda benar. Untuk dapat mempengaruhi perilaku orang lain diperlukan
adanya usaha untuk menarik perhatian orang lain ataupun menjalin komunikasi dengan
baik agar terjalin adanya kepercayaan, agar anda dapat mengetahui apa yang
disukai dan dibutuhkan orang lain sehingga anda dapat mengubah perilaku mereka
dengan mengatakan apa yang ingin mereka dengar dan mereka lihat.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Menjelaskan tentang definisi pengaruh
dari para ahli
2.
Membahas kunci-kunci perubahan perilaku
3.
Menjelaskan berbagai model cara
mempengaruhi perilaku
4.
Menjelaskan tentang apa itu wewenang
1.3 Tujuan
Agar pembaca dapat mengetahui dan
memahami bagaimana cara mempengaruhi perilaru serta mengetahui kunci perubahan
perilaku agar dapat mengaplikasikan cara mempengaruhi perilaku dengan berbagai
model dalam kehidupan sehari-hari.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pengaruh
Menurut
Wiryanto, pengaruh adalah tokoh formal dan informal di masyarakat yang memiliki
ciri-ciri cosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksesibel di bandingkan dengan
pihak yang dipengaruhi.
Menurut
Bertram Juhannes Otto Schrieke, pengaruh adalah bentuk dari suatu kekuasaan
yang tidak dapat di ukur kepastiaannya.
Menurut
Albert R. Robert & Gilbert, pengaruh adalah wajah kekuasaan yang di peroleh
oleh orang saat tidak memiliki kewenanggan untuk mengambil keputusan.
2.2 Kunci
– kunci Perubahan Perilaku
Perilaku adalah personality
itu sendiri, dan bentuk personality adalah perilaku. Perilaku dibentuk
dari keterkaitan antara daya intelektual dan perbuatan. Artinya, bagaimana dia
berpikir begitulah dia berbuat, dan sebaliknya. Daya intelektual adalah potensi
alamiah manusia yang telah diberikan oleh Tuhan dengan maksud agar manusia
dapat menjadi khalifah di muka bumi, sekaligus menjauhkan dirinya dari
berperilaku seperti binatang. Daya intelektual ini bisa disebut dengan
‘idealisme’.
Potensi harus digunakan sebaik
mungkin. Rasa ingin tahu, banyak memiliki informasi atau mengaitkan informasi
dengan fakta yang ada merupakan bagian dari potensi daya intelektual. Jadi,
yang harus dilakukan oleh manusia adalah banyak melakukan pembelajaran, kajian
ataupun diskusi sehingga memiliki cara pandang tertentu. Dalam hal ini P2KP
memiliki metode jitu yang disebut dengan Diskusi Kelompok Terarah (DKT), yakni
sebuah pembelajaran dan pendalaman topik guna menghimpun potensi menuju
perubahan yang diinginkan.
Sementara itu, perbuatan adalah
aktualisasi kecendrungan manusia terhadap apa yang dipikirkan. Perbuatan yang
lahir tidak atas idealisme seseorang bukan merupakan cerminan perbuatan yang
dimaksud. Sekali lagi, hal yang kita inginkan adalah perilaku yang tunggal,
bukan ganda. Artinya, perbuatan terbentuk dari idealisme yang satu. Jika
perbuatan terbentuk dari idealisme lain-lain berarti personality
individu tersebut ‘gado-gado’ atau tidak jelas, bahkan lahir sosok skeptisisme
(munafik). Daya intelektual disatukan dengan perbuatan akan melahirkan
idealisme sejati.
Perilaku yang akan menjadi kunci
perubahan di masyarakat adalah sikap yang mampu melalui berbagai benturan
dengan gemilang, adanya kepercayaan diri tanpa batas, dan tekad untuk terus
berjuang hingga titik nadir. Perubahan masyarakat akan berimplikasi terhadap
perubahan individu, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial
yang dapat mendidik manusia.
- Courage: diperlukan keberanian,kebulatan,tekad dan
keteguhan hati
- High confidence : kekuatan penggerak hidup anda
- Attitude: mental yang positif
- New action: tindakan yang benar-benar konsisten
- Goal: target atau tujuan yang benar-benar diinginkan
- Excellence :menjadi yang terbaik
- High confidence : kekuatan penggerak hidup anda
- Attitude: mental yang positif
- New action: tindakan yang benar-benar konsisten
- Goal: target atau tujuan yang benar-benar diinginkan
- Excellence :menjadi yang terbaik
2.3
Model-model dalam Mempengaruhi Perilaku Orang Lain
Cara mempengaruhi orang
lain dengan dasar Pendekatan Komunikasi Persuasi dikemukakan oleh
Aristotle yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang
mampu mempengaruhi orang lain, yaitu;
1. Logical
argument (logos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan argumentasi
data-data yang ditemukan. Hal ini telah disinggung dalam komponen data.
2. Psychological/
emotional argument (pathos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan efek emosi
positif maupun negatif.
3. Argument
based on credibility (ethos), yaitu ajakan atau arahan yang dituruti oleh
komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar
dalam bidangnya. Contoh, kita menuruti nasehat medis dari dokter, kita mematuhi
ajakan dari seorang pemuka agama, kita menelan mentah-mentah begitu saja kuliah
dari dosen. Hal ini semata-mata karena kita mempercayai kepakaran seseorang
dalam bidangnya.
Menurut Burgon &
Huffner (2002), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar
komunikasi persuasi menjadi lebih efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar
lebih berkesan dalam mempengaruhi orang lain. Beberapa pendekatan itu
antaranya;
1.
Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi
sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.
2.
Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan
bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang
diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam
berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat mempersuasi
masyarakat untuk mencegah DBD.
3.
Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi
yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan
karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan
bintang comedian atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.
4.
Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunak’an pilihan kata yang
mudah diingat (memorable) oleh audience/ komunikate dengan tujuan membuat
efek emosi positif atau negative. Misalnya, iklan rokok dengan diksi “nggak ada
loe nggak rame…”.
Namun keempat
pendekatan tersebut dapat dikombinasikan sesuai dengan tujuan persuasi dari
komunikator.
2.4 Wewenang
Wewenang adalah kekuasaan untuk
memebuat keputusan, merumuskan dan melaksanakan kebijakan. Wewenang merupakan
dasar hukum untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas dan tanggung
jawab dapat dilaksanakan dengan baik. Wewenang jua dapat diartikah hak atau
otoritas untuk bertindak melakukan suatu kegiatan tertentu ke arah pencapaian
tujuan.
2.5 Perananan wewenang dalam menejemen.
Wewenang dalam menejemen berperan untuk bisa mengarahkan seseorang
supaya bisa bekerja di bidang yang dikuasi olehnya.
Contohnya : Owner, menggumpulkan para pegawainya untuk
mengerjakan/menyelesaikan proyek kerajinan tangan. Sang owner mempunyai
wewenang supaya proyeknya berjalan sesuai dengan rencananya, maka ia
mengelompokan para pegawainya menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan
yang di miliki pegawainya.Hall ini dilakukan agar menajemen waktu dan menajemen
pekerjaannya bisa berjalan dengan seimbang. Hasil yang diikinkan terujud dan
selesai dengan tepat waktu.
Daftar
Pustaka
Sarwono,
S. W. (2005). Psikologi Sosial (Psikologi
Kelompok dan Psikologi Terapan). Balai
Pustaka, Jakarta.
Pardamean,
Maruli. (2008). Panduan lengkap
pengelolaan kebun dan pabrik kelapa sawit. Jakarta
Selatan: PT Agro Media Pustaka.
Putong,
Iskandar. (2015). Kepemimpinan teoritis
dan praktis. Jakarta: GagasMedia.

0 komentar:
Posting Komentar